Sunday, December 6, 2015

Menelusuri Jejak Stabelan, Dusun Tertinggi di Lereng Merapi

Perjalanan selalu memberikan banyak kesan. Semakin banyak tempat yang kau kunjungi akan semakin banyak hikmah yang bisa kau petik. Kali ini saya mengunjungi Dusun Stabelan Kelurahan Tlogolele Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dusun ini merupakan dusun tertinggi di Lereng Merapi bagian utara. Selepas dusun ini tak ada pemukiman lagi, yang ada hanya deretan hutan-hutan mungil yang kerap disebut alas.

Menelusuri Jejak Stabelan, Dusun Tertinggi di Lereng Merapi
Menelusuri Jejak Stabelan, Dusun Tertinggi di Lereng Merapi, Foto Oleh: Tri Sujarwo Songha


Sebelum waktu ashar tiba, aku bertemu dengan rekan seperjalanan Husein dan Ari di tempat yang dijanjikan, Ponpes Masyarakat Merapi Merbabu (PM3). Setelah hampir satu jam mengendarai honda akhirnya kami sampai di desa paling ujung di Lereng Merapi. Husein dan Ari merupakan relawan yang mengabdikan dirinya di dusun ini. Setiap sabtu-ahad mereka selalu berkunjung ke dusun yang memiliki ketinggian 1200 dpl ini, untuk mengajar TPA. Tanpa bosan dan penuh semangat mereka menjalani dengan ikhlas.
Perjalanan menuju dusun penghasil arang akasia ini tidaklah mudah. Jalanan berliku disertai tanjakan dan turunan menjadi teman setia. Debu-debu yang sesekali membuat mata terasa risih juga kerap menyapa. Tapi, semua itu akan terbayarkan dengan senyum merekah dari anak-anak polos yang duduk rapih di dalam musola. Mengajari mereka merapal doa-doa sembari membaca ayat suci Alquran merupakan suatu kebahagiaan tiada terkira.
Kami bermalam di rumah Pak Aris. Keluarga muslim ini menyambut baik dan sangat ramah. Aneka hidangan dan minuman disuguhkan. Jamuan ditutup dengan pesta makan malam. Sungguh nikmat dari Allah yang tak akan terbayarkan. Betapa sayangnya Allah kepada kita. Memberikan rizki tanpa kita minta. Masya Allah.
Tradisi jawa masih begitu kuat di sini. Saat malam tahlilan semua akan terlihat dengan kentara. Seorang pemimpin doa akan membakar kemenyan sembari membaca doa-doa. Disamping kemenyan itu, ada semangkok air yang dicampur dengan bunga tujuh rupa. Mangkok itu akan diputar, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain sembari ditiup. Entah apa maksudnya? Merasa “terjebak” dalam sesuatu yang tidak dicontohkan Muhammad saw, saya tak meniupkan mangkok itu saat tiba giliranku. Sepanjang acara aku hanya beristighfar, memohon ampun atas segala kesalahan. Sembari terus berdoa semoga kita bisa berubah ke arah yang lebih baik. Menjalankan islam dengan sempurna. Ini sebuah tradisi yang baru pertama kali kulihat, walaupun aku keturunan jawa juga.
Sudahlah, lupakan kejadian semalam. Sembari terus memohon ampunan. Sekarang coba rasakan udara pagi di Stabelan sembari menikmati teh hangat dan sebungkus roti yang dihidangkan. Benar-benar perpaduan yang sempurna, bukan ? Udara dingin menusuk pori-poriku, menyusuri desa berpenduduk 100 KK ini sungguh mengesankan. Walaupun hampir semua penduduknya muslim namun anjing banyak berkeliaran. Konon, anjing-anjing ini akan menghalau monyet-monyet yang turun ke perkampungan. Semoga kelak setelah primata itu tak turun lagi, tak ada anjing lagi di sini. Semoga.

Ditulis oleh: Tri Sujarwo Songha

No comments: