Saturday, May 14, 2016

PULAU PAHAWANG LAMPUNG YANG MENDUNIA, EKSOTIK COY !!!

Siapa yang tidak kenal pulau pahawang? yah, pulau pahawang terletak di daerah Pesawaran (Povinsi Lampung) Indonesia. Anda harus mencoba datang ke lokasi wisata ini maka dijamin kepenatan anda akan berkurang.

Destinasi wisata di pulau pahawang memang sangat indah memukau, luasan pantai yang sangat cocok untuk snorkling melihat pemandangan alam di dasar laut. Ikan-ikan berwarna-warni, kerang-kerang, serta terumbu karang dengan aksesoris perhiasan keindahan bawah laut yang menjadi ciri khas dari pulau kecil di Lampung ini. Sangat memukau !

Jika anda ingin menuju pulau pahawang, maka anda bisa menggunakan bus dari terminal rajabasa (menyewa) dan bus-bus tersebut biasanya siap mengantarkan para traveller hingga sampai lokasi pulau pahawang. Bisa juga anda menggunakan kapal dari Dermaga Ketapang untuk menyeberang ke pulau Pahawang.

Di sekitaran pulau pahawang juga ada pulau Pahawang kecil, pulau Pahawang besar, pulau gosong, pulau kelagian.

Jika anda sudah menikmati panorama alam yang begitu indah di pulau Pahawang, anda bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Tanjung Putus serta ke Pulau Kelagian yang tidak jauh dari Pahawang.

Di Tanjung Putus dan Pulau Gosong memang hanya terlihat pasir putih yang terhampar luas di sepanjang garis pantai. Pasir-pasirnya putih bersih karena sapuan ombak pantai, dengan warna perairan lautnya yakni biru toska, tidak begitu dalam dan seperti kolam renang sendiri.

Kondisi yang menyenangkan di pulau pahawang tentu saja akan membawa hari-hari anda menjadi lebih semangat lagi, mari coba datang dan nikmati panorama alam yang membuat hidup anda dan rutinitas anda menjadi tidak penat lagi. Pahawang paling seru !


Sunday, December 6, 2015

Menelusuri Jejak Benteng Van Der Wijck Gombong, Kebumen, Jawa Tengah

Jalan-jalan memang butuh modal, salah satunya modal muka tebal. Saat tempat wisata tempat yang kau kunjungi tak ada transportasi umum, ikut mobil sayur pun jadilah. hahaha...

Menuju Benteng Van der Wijck Gombong
Menuju Benteng Van der Wijck Gombong Jawa Tengah (Indonesia)

Benteng Van Der Wijck Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, bukan benteng biasa. Memasuki kawasan Benteng "Merah" ini kita akan dibawa seperti ke masa zaman belanda dulu. Yukk, angkat ranselmu, dan mulai telusuri daerahmu.


Benteng Van der Wijck Gombong Bukan Benteng Biasa
Benteng Van der Wijck Gombong Bukan Benteng Biasa

Ganti cara loe melihat dunia, Ayo rasakan sensasi naik kereta diatas benteng. Pengin tahu rasanya macam mana, yuk kunjungi Benteng Van Der Wijck Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Amazing, Akhi . . !!!


Benteng Van der Wijck Gombong
Benteng Van der Wijck Gombong

Memasuki bagian dalam Benteng Van Der Wijck, Jawa Tengah ini, serasa di dalam penjara Belanda. Serem-serem semriwing gituu hahaha


Penjara Benteng Van der Wijck Gombong Jawa Tengah
Penjara Benteng Van der Wijck Gombong Jawa Tengah


Lorong di dalam Benteng Van Der Wijck, serasa menembus lorong waktu zaman belanda kala itu.


Lorong Benteng Van der Wijck Gombong Jawa Tengah
Lorong Benteng Van der Wijck Gombong Jawa Tengah, Foto Oleh: Tri Sujarwo Songha

Benteng Van Der Wijck Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. What’s next ? Break the Limit. ‪#‎From‬ Up ‪#‎Van‬ Der Wijck ‪#‎Benteng‬

Benteng Van der Wijck
Benteng Van der Wijck 
Foto dan Tulisan Oleh: Tri Sujarwo Songha

Goa Pindul Yogyakarta Memiliki Banyak Spot Unik

Foto Perjalanan Oleh: Tri Sujarwo Songha

Biar kekinian kita Susur Goa Pindul Yogyakarta, dulu yukz. Seru loh menyusuri Goa keren ini pake ban apung. Brrrrrrrrrr, Seger.

Goa Pindul Yogyakarta Memiliki Banyak Spot Unik
Goa Pindul Yogyakarta Memiliki Banyak Spot Unik
Goa Pindul Yogyakarta memiliki banyak spot unik, salah satunya bagian atap goa yg bolong. Saya berdiri persis di bawah atap yang bolong itu. Kata pemandu kami iklannya udah seliweran di tipi. Iya, yang keren itu loh, hehe.

Goa Pindul Yogyakarta
Goa Pindul Yogyakarta (Indonesia)

Kata Kholil aku anak petani yang seneng piknik, mandan leres sih. Wis, kita susur Goa Pindul Yogyakarta aja lah yuk. Jiant apike poollll. Ayo cah reneo.

Ini "pintu keluar" Goa Pindul setelah kita susuri. Ada 3 zona dlm goa, yakni zona terang, remang dan gelap. Masya Alloh, ada ya goa sekeren ini. Ayo jangan di rumah aja, Indonesia itu keren, Akhi.
(Kisno ojo nyeneni yo hehe)

Ini pintu keluar Goa Pindul Yogyakarta
Ini pintu keluar Goa Pindul Yogyakarta

Goa Pindul bikin hati kesundul. Sensasi menyusuri dalam goa itu loh yang bikin orang pengin datang kesini lagi. Ayo jelajahi nusantara, Goa Pindul Yogyakarta punya.

Mulai dari wisatawan asing sampai domestic pade kesini. Iye, Ke Goa Pindul Yogyakarta. Emang keren dah. Akhi-akhi dimanapun pade nyok datang dimari.
What’s next? Break the Limit .

Ini pintu keluar Goa Pindul Yogyakarta
Ini pintu keluar Goa Pindul Yogyakarta (Indonesia)



Menelusuri Pantai Logending Kebumen

Oleh: Tri Sujarwo Songha

Bosan keliling pantai dengan jalan kaki. Anda bisa menelusuri Pantai Logending Kebumen dengan naik kuda poni ini. Anda cukup membayar 30ribu aja untuk naik kuda asal Sumba, NTT ini.



Pantai Logending menyuguhkan pemandangan yang sempurna. Barisan pegunungan nan hijau, hutan mangrove, aliran sungai bodo dan pulau mungil di ujungnya. What’s next ? Break the limit.

Menelusuri Pantai Logending Kebumen
Tri Sujarwo Menelusuri Pantai Logending Kebumen


Seru ya perjalanan kak Tri Sujarwo Songha... hehe..

Sepotong Kisah di Kaki Gunung Setugel

Sebuah perjalanan panjang yang kini kujalani tak pernah terfikirkan dalam hidupku. Itulah yang mungkin dinamakan takdir. Semuanya sudah ditentukan oleh-Nya. Tinggal di lereng Merbabu sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya. Meninggalkan segala aktifitas di kota yang apa saja kita inginkan bisa kita peroleh dengan segera.
Sepotong Kisah di Kaki Gunung Setugel
Sepotong Kisah di Kaki Gunung Setugel

Hidup adalah pilihan. Aku bersyukur dengan apa yang Alloh takdirkan padaku hari ini. Walaupun "kehidupan" tak semudah dulu. Tapi aku bahagia. Aku tersadar bahwa kebahagiaan itu tak selamanya mampu diukur dengan materi.
Kembali kepada aktifitasku beberapa tahun silam. Mengajar anak-anak TPA di Dusun Gumuk dibawah kaki Gunung Setugel. Dusun ini merupakan dusun paling ujung barat di bawah kaki gunung tanpa puncak itu.
Jalanan yang harus kulalai lumayan terjal.Jarak yang harus ditempuh sekitar 30 menit. Jalanan berliku, penuh dengan tanjakan dan turunan. Sebelah kiri jalan dihiasai dengan jurang-jurang mungil yang menukik tajam. Lisan terus merapal doa-doa kala melewati jalanan ini. Berharap Yang MahaKuasa melindungi dalam perjalanan.
Sesampainya di dusun yang diapit beberapa lembah mungil ini, aku disambut dengan tawa bocah-bocah lugu. Mereka anak-anak lereng Merbabu yang belum "terkontaminasi" oleh kehidupan modernitas yang mengedepankan sikap hedonitas. Tata krama dan ahlaq mereka begitu mempesona. Ah, begitu indah rasanya.

Ditulis Oleh: Tri Sujarwo Songha.

Kabut Tornado

Kabut datang bergelanyut sore itu. Teman karib hampir setiap hari. Kadang ia datang kala pagi mulai menyala. Tak jarang ia datang saat senja mulai menyapa.
Kabut itu begitu lembut. Hawa dingin mulai menyeruak. Hingga jalanan dan pemandangan sekitar tak begitu nampak. Namun, kedatangannya ibarat kepak-kepak kebahagiaan di sisi kehidupan.

Kabut Tornado
Kabut Tornado
Seperti biasa sore itu sepulang dari tempatku mengajar TPA di Kaki Gunung Setugel, aku kembali bertukar motor. Kali ini aku memakai motor tornado tahun 90-an. Kabut mulai tiba, aku seperti tak menghiraukan hal itu lagi. Aku terus melaju di Lereng Merbabu itu.
Jarak pandang mungkin hanya sehasta. Deru laju tornado benar-benar membuatku tebal muka. Suaranya begitu menggelegar. Seperti desau gergaji yang tengah menebang pohon besar. Setiap kupakai motor ini, orang yang lewat menatapku tajam. Sembari memicingkan mata atau tertawa kecut. Paling suka saat ada pengendara dengan motor yang sama. Rasa malu itu ibarat dibagi dua. Lega rasanya.
Paling takut saat berkendara di lereng merbabu yang ditumbuhi pepohonan lebat. Takut ada polhut yang mencari sumber suara ke arah kita. Volume suara yang dihasilkan tornado ini mungkin akan membuat polhut curiga, takut ada pembalakan liar. Oh, Tornado, Tornado.
Namun, tornado inilah yang mengantarku kebanyak tempat. Menjalani aktifitas pun sering bersamanya. Aku bahagia bersamamu tornado. Kini aku tak malu lagi mengendaraimu. Aku terima kamu apa adanya, walau awalnya aku tak suka.
Kabut mulai menusuk tubuhku. Langit pun tak cerah lagi. Mari masuk, sembari menyeduh secangkir kebahagiaan di pelupuk denyut kehidupan.
Ditulis Oleh: Tri Sujarwo Songha

Borobudur Writer and Cultural Festival 2015, Seru-seru Gemes

Telfon berdering pada Senin, 9 November 2015. “Teguh,” gumamku. Salah satu rekanku saat mengikuti Forum Indonesia Muda (FIM) 2010 yang kini telah menjelma menjadi cerpenis nasional. Ia mengajakku untuk mendaftar Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2015.
Hidup di lereng Merbabu membuatku banyak ketinggalan informasi mengenai berbagai event yang dulu sering kuikuti. Aku baru sempat mendaftar pada hari terakhir pendaftaran, 10 November 2015. Selasa malam itu aku turun gunung, mencari warnet untuk mengirim aplikasi. Kabut tebal membuat jarak pandangku terbatas. Tetesan-tetesan embun malam memenuhi wajahku. Kuseka perlahan, tak berapa lama, butiran-butiran air itu kembali memenuhi pipiku. Aku lelah bro, menyeka tetesan-tetesan mungil itu.
Borobudur Writer and Cultural Festival 2015
Borobudur Writer and Cultural Festival 2015, Foto Oleh: Tri Sujarwo
Laju motor perlahan kuturunkan. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kutemukan warnet juga. Malam semakin pekat. Selesai mengisi aplikasi, jaringan internet membuatku jengkel. Lelet. Pengin banting tuh komputer rasanya. Aku berusaha sabar, sembari terus beristighfar. Setelah beberapa jam di warnet akhirnya aku berhasil mengirim aplikasi itu. Hari-hari berikutnya aku mendapatkan email balasan, aku dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta terpilih BWCF 2015. Alhamdulillah.
Banyak pengisi acara yang luar biasa. Pesertanya juga kebanyakan para penulis dan mahasiswa. Nah, gue? Apalah-apalah. Niatku Cuma satu, belajar dan menuntut ilmu. Wis ngono, thok.
Salah satu pembicara yang oke punya, adalah Pak Hadi Sidomulyo (Foto bule dibawah). Walau nama Jawa, dia tulen dari Inggris loh. Nama aslinya Nigel Bullough lahir dan besar di London. Sejak usia 20 tahun (tahun 1971) ia datang dan mulai menetap di Indonesia. Saat ditanya, Pak Hadi lebih cinta mana, Inggris atau Indonesia. Dengan lantang ia menjawab Indonesia. Kecintaannya akan Indonesia membuat dirinya tertarik untuk meneliti situs-situs sejarah di Indonesia. Kini ia hidup bahagia bersama istrinya yang juga jawa dan putri semata wayangnya, Usa Bullough di Bali.



Kami juga sempat melihat pertunjukan seni Lima Gunung di sekitar Magelang. Overall acaranya Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2015, okelah. Maturnuwun.
Ditulis Oleh: Tri Sujarwo Songha