Sunday, December 6, 2015

Borobudur Writer and Cultural Festival 2015, Seru-seru Gemes

Telfon berdering pada Senin, 9 November 2015. “Teguh,” gumamku. Salah satu rekanku saat mengikuti Forum Indonesia Muda (FIM) 2010 yang kini telah menjelma menjadi cerpenis nasional. Ia mengajakku untuk mendaftar Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2015.
Hidup di lereng Merbabu membuatku banyak ketinggalan informasi mengenai berbagai event yang dulu sering kuikuti. Aku baru sempat mendaftar pada hari terakhir pendaftaran, 10 November 2015. Selasa malam itu aku turun gunung, mencari warnet untuk mengirim aplikasi. Kabut tebal membuat jarak pandangku terbatas. Tetesan-tetesan embun malam memenuhi wajahku. Kuseka perlahan, tak berapa lama, butiran-butiran air itu kembali memenuhi pipiku. Aku lelah bro, menyeka tetesan-tetesan mungil itu.
Borobudur Writer and Cultural Festival 2015
Borobudur Writer and Cultural Festival 2015, Foto Oleh: Tri Sujarwo
Laju motor perlahan kuturunkan. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kutemukan warnet juga. Malam semakin pekat. Selesai mengisi aplikasi, jaringan internet membuatku jengkel. Lelet. Pengin banting tuh komputer rasanya. Aku berusaha sabar, sembari terus beristighfar. Setelah beberapa jam di warnet akhirnya aku berhasil mengirim aplikasi itu. Hari-hari berikutnya aku mendapatkan email balasan, aku dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta terpilih BWCF 2015. Alhamdulillah.
Banyak pengisi acara yang luar biasa. Pesertanya juga kebanyakan para penulis dan mahasiswa. Nah, gue? Apalah-apalah. Niatku Cuma satu, belajar dan menuntut ilmu. Wis ngono, thok.
Salah satu pembicara yang oke punya, adalah Pak Hadi Sidomulyo (Foto bule dibawah). Walau nama Jawa, dia tulen dari Inggris loh. Nama aslinya Nigel Bullough lahir dan besar di London. Sejak usia 20 tahun (tahun 1971) ia datang dan mulai menetap di Indonesia. Saat ditanya, Pak Hadi lebih cinta mana, Inggris atau Indonesia. Dengan lantang ia menjawab Indonesia. Kecintaannya akan Indonesia membuat dirinya tertarik untuk meneliti situs-situs sejarah di Indonesia. Kini ia hidup bahagia bersama istrinya yang juga jawa dan putri semata wayangnya, Usa Bullough di Bali.



Kami juga sempat melihat pertunjukan seni Lima Gunung di sekitar Magelang. Overall acaranya Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2015, okelah. Maturnuwun.
Ditulis Oleh: Tri Sujarwo Songha

No comments: