Kabut datang bergelanyut sore itu. Teman karib hampir setiap hari. Kadang ia datang kala pagi mulai menyala. Tak jarang ia datang saat senja mulai menyapa.
Kabut itu begitu lembut. Hawa dingin mulai menyeruak. Hingga jalanan dan pemandangan sekitar tak begitu nampak. Namun, kedatangannya ibarat kepak-kepak kebahagiaan di sisi kehidupan.
![]() |
| Kabut Tornado |
Seperti biasa sore itu sepulang dari tempatku mengajar TPA di Kaki Gunung Setugel, aku kembali bertukar motor. Kali ini aku memakai motor tornado tahun 90-an. Kabut mulai tiba, aku seperti tak menghiraukan hal itu lagi. Aku terus melaju di Lereng Merbabu itu.
Jarak pandang mungkin hanya sehasta. Deru laju tornado benar-benar membuatku tebal muka. Suaranya begitu menggelegar. Seperti desau gergaji yang tengah menebang pohon besar. Setiap kupakai motor ini, orang yang lewat menatapku tajam. Sembari memicingkan mata atau tertawa kecut. Paling suka saat ada pengendara dengan motor yang sama. Rasa malu itu ibarat dibagi dua. Lega rasanya.
Paling takut saat berkendara di lereng merbabu yang ditumbuhi pepohonan lebat. Takut ada polhut yang mencari sumber suara ke arah kita. Volume suara yang dihasilkan tornado ini mungkin akan membuat polhut curiga, takut ada pembalakan liar. Oh, Tornado, Tornado.
Namun, tornado inilah yang mengantarku kebanyak tempat. Menjalani aktifitas pun sering bersamanya. Aku bahagia bersamamu tornado. Kini aku tak malu lagi mengendaraimu. Aku terima kamu apa adanya, walau awalnya aku tak suka.
Kabut mulai menusuk tubuhku. Langit pun tak cerah lagi. Mari masuk, sembari menyeduh secangkir kebahagiaan di pelupuk denyut kehidupan.
Ditulis Oleh: Tri Sujarwo Songha

No comments:
Post a Comment